ARTI JIWA SECARA
ILMIAH DAN ISLAMI
TUGAS PSIKOLOGI UMUM
Nim:12422071
Nama:Fina Sunarsih
Prodi:Pend.Agama Islam
Fakultas Ilmu Agama Islam
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
KATA PENGANTAR
BISMILLAHIRRAHMANIIRAHIIM
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Dengan mengucap syukur kepada Allah
SWT karena hanya dengan rahmat dan ridhanya lah makalah dengan judul ARTI JIWA SECARA ILMIAH DAN
ISLAMI ini dapat terselasaikan.
Tidak lupa saya mengucapkan
terimakasih kepada bapak Muhammad Idrus selaku dosen psikologi umum saya yang
telah memberikan tugas untuk membuat makalah ini. Dan alhamdulilah saat ini
saya telah menyelesaikan tugas yang bapak berikan dengan sebaik-baiknya.
Saya sebagai mahasiswa yang baru
mempelajari ilmu psikologi sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini
masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan dalam penyempurrnaan makalah ini.
Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi para pembaca
Wassalamu’alaikum
Wr.Wb
Yogyakarta, 1 Oktober 2012
Fina Sunarsih
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Perbedaan
pandangan dalam suatu lapangan ilmu bukanlah hal yang baru. Lebih-lebih dalam
cabang ilmu sosial. Masing-masing ahli mempunyai sudut pandang sendiri-sendiri,
sehingga akan berbeda dalam meletakkan titik beratnya. Perbedaan pandangan ini
mungkin karena perbedaan bidang studi ataupun metode yang digunakan dalam
pendekatan masalah. Seperti halnya mengkaji ilmu psikologi atau lebih dikenal
dengan ilmu jiwa. sesungguhnya perbincangan mengenai “jiwa” bukanlah hal yang
baru. Seperti yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa Ilmu psikologi
sudah ada sejak dulu dan untuk menjawab tentang apa itu jiwa bukan lah perkara
yang mudah.Ini terbukti dari jawaban yang berbeda-beda. Oleh karena itu timbullah
persoalan yaitu pengertian atau definisi manakah yang tepat. Karena suatu
definisi tepat bagi seseorang, belum
tentu tepat bagi orang atau ahli yang lain. Sehingga sulitlah untuk memberikan
suatu definisi yang memuaskan secara umum universal. Tetapi, ini bukanlah
penghalang untuk memberikan pengertian tentang suatu hal yang dibicarakan
walaupun nantinya pengertian yang diberikan tidak akan memuaskan semua pihak.
Banyak ahli ilmu yang telah
mendefinisikan tentang jiwa. Jiwa sesuatu yang bukan materi dan abstrak tetapi
sangat berpengaruh terhadap fisik. Dulu ahli-ahli filosof terutama filosof
barat lebih tertarik untuk meneliti tentang fisik namun sekarang semua ahli
ilmu sedang mencoba mengungkapkan tentang apa itu jiwa. karena inilah saya
menjadi lebih tertarik untuk belajar ilmu jiwa atau psikologi. Dan kali ini
saya mencoba menjelaskan kembali apa yang telah ditafsirkan oleh para ahli
mengenai jiwa.
1.2
Rumusan Masalah
-
Apakah pengertian jiwa secara ilmiah?
-
Apa pula pengertian jiwa secara islami?
1.3 Tujuan Penulisan
-
Untuk mengetahui arti jiwa secara
ilmiah.
-
Untuk mngetahui arti jiwa secara islami
1.4 Manfaat penulisan
Dalam
penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang apa itu
jiwa. Tidak hanya dijelaskan secara ilmiah oleh para filosof modern namun juga
dikaji dari sudut pandang islam. Semoga dengan adanya makalah ini bisa menambah
pengetahuan kita terutama mahasiswa yang baru belajar mengenai psikologi atau
ilmu jiwa.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Pengertian jiwa secara ilmiah
Psikologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani Psychology yang merupakan gabungan dan katapsyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Secara harfiah psikologi diartikan sebagal ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih
sulit didefinisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat abstrak,
sulit dilihat wujudnya, meskipun tidak dapat dimungkiri keberadaannya. Walaupun
psikologi adalah ilmu yang mempelajari sesuatu yang tidak nampak yaitu jiwa.
Ilmu jiwa atau psikologi harus dapat diuji kebenarannya. Metode yang digunakan
dalam penelitian adalah metode ilmiah. Metode ilmiah yaitu suatu metode yang
terencana, terorganisir dan sistematis.
Dalam pendekatan Ilmiah mengenai
psikologi atau ilmu jiwa harus dapat menghasilkan kesimpulan yang sama atau
hampir sama diantara sekian banyak peneliti yang menjelaskan. Penarikan
kesimpulan haruslah objektif, tidak boleh subjektif. Karena suatu ilmu harus
objektif. Dengan mengkaji psikologi atau ilmu jiwa dengan metode ilmiah , maka diharapkan
dapat diperoleh hasil berupa ilmu pengetahuan yang benar tidak hanya secara
teori tetapi juga benar apabila seorang peneliti ingin mengujinya.
.Pembahasan mengenai jiwa sudah ada jauh pada zaman Yunani
kuno. Dan sudah banyak ahli filosof yang mendefinisikan mengenai jiwa di
antaranya yaitu
Menurut
Sokrates, jiwa merupakan wujud ruhani yang lepas (independen), dimana
jiwa wujud ruhani itu diabaikan atau ditinggalkan, niscaya akan menimbukan
kebodohan dan akan memproduksi pemikiran yang mandul serta rusak. Bahwa manusia
itu dapat menghilangkan kebodohan yang menimpa dirinya apabila ia berpikir
tentang jiwa. Mengenai jiwa, menurutnya, merupakan pengetahuan yang pertama kali
harus dilakukan oleh manusia. Sokrates sendiri meyakini kekekalan jiwa dan
kefanaan (rusaknya) jasad. Untuk mempertahankan idenya, Sokrates lebih
mengutamakan dihukum daripada kembali mengakui kesalahan pendapatnya, yang ia
peroleh setelah menganalisa jiwanya dan jiwa orang lain.
John Broadus Watson
menjelaskan bahwa Ilmu jiwa atau pskilogi adalah Ilmu pengetahuan yang
mempelajari tingkah laku tampak ( lahiriah) dengan menggunakan metode observasi
yang objektif terhadap rangsang dan jawaban (respons).
Menurut
Plato, jiwa adalah substansi yang independen dari anggota tubuh, dan hubungan
diantara keduanya, yaitu antara jiwa dan jisim bagaikan
hubungan antara seorang nakhoda dengan sebuah perahu, dimana nakhoda berfungsi
sebagai pengatur jalannya perahu, dan menjaganya ditengah-tengah hembusan
gelombang. Jiwa menurutnya berada diantara dua alam, yaitu alam tinggi (alam
ide) dan alam bawah, yakni alam rasa. Kedua alam ini pada awalnya adalah
menyatu dalam kesatuan. Akan tetapi, setelah alam ide itu jatuh ketanah,
mengakibatkan terpecahnya alam tersebut menjadi beberapa bagian. Dia juga
mengakui tentang kekekalan jiwa, dengan mengemukakan beberapa bukti.
Diantaranya yang paling penting adalah “kehidupan” dan “gerak”. Kehidupan dan
gerak inilah yang menjadi dasar dan tabiat jiwa seseorang. Gerak dan kehidupan
merupakan kekhususan yang substantive bagi jiwa, dan saat gerak serta kehidupan
itu terdapat didalam jasad, maka bermakna; bahwa jasad itu hidup. Dan pada saat
itu , jiwa merupakan sumber dari gerak jasad manusia. Sesungguhnya gerak dari
jasad itu bukanlah gerak asli, karena fungsi jasad hanya menerima signal dari
gerakan jiwa. Sementara gerak dari jiwa manusia bersifat dzati. Dengan
demikian, gerak jiwa itu bersifat qadim (lama) dalam makna “kekal”, abadi.
Aristoteles memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang
mempelajari gejala-gejala kehidupan. Jiwa merupakan unsur kehidupan . Karena
itu tiap-tiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Jadi baik manusia,hewan maupun
tumbuhan menurut aristoteles adalah berjiwa atau beranima. Dan anima yang lebih
tinggi mencangkup sifat-sifat atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh anima
yang lebih renadah. Anima intelektual merupakan tingkatan anima yang paling
tinggi, sedangkan anima vegtatif adalah anima yang paling rendah.
Menurut
Plotinus, Jiwa adalah suatu kekuatan ilahiah; jiwa merupakan sumber kekuatan.
Alam semesta berada dalam jiwa dunia. Jiwa tidak dapat dibagi secara
kuantitatif karena jiwa itu adalah sesuatu yang satu tanpa dapat dibagi. Jiwa
adalah identitas dalam varietas. Semua orang berjiwa, tetapi jiwa itu tetap
satu yang menyebar. Dalam hal ini, Plotinus memperkenalkan adanya emanasi jiwa.
Konsep emanasi Plotinus bermula pada tiga realitas, The One, The Mind,
dan The Soul. The One adalah puncak dari semua
yang ada. Ini adalah puncak dari dari akal dan jiwa.
Bruno membagi pengertian psikologi dalam tiga bagian yang
pada perinsipnya saling berhubungan. Pertama, psikologi adalah studi
(penyelidikan) mengenai “ruh”. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan
mengenai ”kehidupan mental”, ketiga psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai
“ tingkah laku” organisme.
1.2
Pengertian jiwa secara islami
Manusia merupakan suatu penciptaan
yang menakjubkan. Manusia yang terdiri
dari jasad, akal, perasaan, jiwa, merupakan sesuatu yang fenomenal yang tidak
mungkin diabaikan begitu saja. Banyak penelitian dilakukan untuk mengungkap
penciptaan manusia. Namun kebanyakan para ahli barat hanya meneliti dari segi
fisik. Karena mereka menggagap unsur yang tidak nampak seperti jiwa hanyalah
spekulatif. Padahal sesungguhnya tingkah laku yang dilakukan fisik adalah hasil
dari penjelmaan jiwa. Berbeda dengan filosofis muslim. Mereka lebih tertarik
meneliti tentang jiwa. Kenapa demikian?... Karena mereka menggangap dimensi
jiwa memiliki kedudukan lebih tinggi daripada dimensi fisik.
Kata
jiwa berasal dari bahasa arab (النفس) atau nafs’ yang secara
harfiah bisa diterjemahkan sebagai jiwa, dalam bahasa Inggris
disebut soul atau spirit.
Dalam pandangan islam,jiwa dilihat dari sifatnya terbagi menjadi
tiga bagian, yaitu: nafs muthma’innah (jiwa tenang), nafs
lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri), nafs ammarah(jiwa
yang selalu menyuruh kepada kejahatan). dan Pembagian ini berdasarkan dalil
dalam al-Qur’an.
“Wahai
jiwa-jiwa yang tenang” (Al-Fajr: 27)
“Aku bersumpah
demi hari kiamat. Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya
sendiri)” (Al-Qiyamah
1-2)
" Dan
Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu
selalumenyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang (Yusuf:53)
Jiwa dalam pandangan Al-Qur’an
Al-Qur’an sebagai sumber yang tepat
dan terpecaya memberikan apresiasi yang sangat besar bagi kajian jiwa (nafs)
manusia. Hal ini bisa dilihat ada sekitar 279 kali Al-Qur’an menyebutkan kata
jiwa (nafs). Dalam Al-Qur’an kata jiwa mengandung makna yang beragam (lafzh
al-Musytaraq). Terkadang lafaz nafs bermakna manusia (insan), “Takutlah
kalian kepada hari di mana seorang manusia (nafs) tidak bisa membela manusia
(nafs) yang lainnya sedikitpun. Dan “Sesungguhnya orang
yang membunuh seorang manusia (nafs) bukan karena membunuh (nafs) manusia yang
lainnya, atau melakukan kerusakan di muka bumi, seolah-olah dia membunuh
seluruh manusia. Juga menunjukkan makna Zat Tuhan, “Aku pilih
engkau untuk Zat (nafs)-Ku. Demikian juga lafaz nafs yang
mengandung makan hakikat jiwa manusia yang terdiri dari tubuh dan ruh,”Dan
kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa
petunjuk.”Dan “Allah tidak membebani (jiwa) seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya.” Selain itu ditujukan maknanya kepada diri
manusia yang memiliki kecenderungan,“Maka, hawa nafsu Qabil menjadikannya
menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia
seorang di antara orang yang merugi.” Lafaz nafs yang bermakna bahan (mahiyah) manusia.
Kehendak (thawiyah) dan sanubari (dhamir),
Selain dalam Al-Qur’an, beberapa
hadist Rasulullah saw. juga menyinggung persoalan jiwa. Sama halnya dengan
Al-Qur’an kata nafs(jiwa) juga digunakan dalam makna yang beragam.
Dalam hadist Rasulullah saw., penggunaan kata nafs (jiwa) dapat
ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya:
1.Nafs
dalam arti perasaan dan perilaku
Lafaz nafs dalam
hadist sering mengandung makna wijdaan, suluuk, syu’uur
(feeling), maupun ihsaas (sensasion)yang semuanya menunjuk
kepada sesuatu yang terbetik atau bergejolak di dalam diri manusia. Dengan
sesuatu inilah manusia kemudian memiliki perasaan dan emosi terhadap sesuatu
yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam tingkah laku. Seperti beberapa hadist
berikut;
Ummul Mu’minin ‘Aisyah berkata,
“Suatu hari, Rasulullah saw., keluar dari kediaman saya dengan perasaan gembira
(thibb an-nafs). Akan tetapi ketika kembali beliau terlihat sedih
sehingga saya terdorong untuk menanyakan penyebabnya. Beliau kemudian menjawab,
“Sesungguhnya saya tadi masuk ke
dalam Ka’bah. Tiba-tiba muncul pemikiran kalau saya tadi tidak melakukan hal
tersebut. Hal itu disebabkan saya khawatir akan memberatkan umat saya yang
dating kemudian.” (HR.
Muslim).
2. Nafs
dalam arti zat atau esensi manusia
Disamping makna di atas, kata nafs juga
dipakai dalam arti zat/esensi manusia itu sendiri yang dengan keberadaannya
setiap tindakan manusia menjadi bernilai. Seperti dalam hadist Rasulullah saw.;
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw.
pernah bertanya kepada Abdullah bin Amru bin ‘Ash, “Engkau orang yang
senatiasa puasa sepanjang hari dan melakukan shalat sepanjang malam?” Abdullah
menjawab, “Benar.” Rasulullah saw. kemudian berkata, “Jika kamu
teruskan kebiasaan seperti itu maka matamu akan sakit dan jiwamu akan menjadi
letih. Tidak dibolehkan melakukan puasa dahr (setiap hari). Berpuasa tiga hari
(disetiap pertengahan bulan) adalah laksana berpuasa sepanjang tahun.”Abdullah
lalu berkata, “Akan tetapi, saya measa sanggup melakukan yang lebih dari itu.”
Rasulullah saw. selanjutnya menjawab, “Jika demikian maka berpuasalah
seperti puasanya Dawud a.s., yaitu berpuasa sehari kemudian berbuka
sehari…” (HR Bukhari).
3. Nafs
dalam arti ruh manusia
Lafaz nafs kebanyakan
dipergunakan dalam makna ruh. Dalam hal ini bisa dilihat dari beberapa hadist
berikut;
Anas bin Malik r.a meriwayatkan
bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya tentang perbuatan-perbuatan yang
dikategorikan dosa besar. Beliau lalu menjawab,“Mempersekutukan Allah swt.
Durhaka terhadap kedua orang tua, membunuh jiwa dan melakukan sumpah
palsu.” (HR Bukhari).
Penjelasan
mengenai jiwa tidak hanya berasal dari Al-Qur’an dan hadist namun juga
penafsiran-penafsiran para ahli ilmu seperti:
Ibnu
Qoyyim yang mendasarkan pendapatnya kepada Al-Qur’an, sunnah, ijma sahabat,
argumentasi akal dan fitrah. Dia menjelaskan bahwa jiwa manusia itu satu,
tetapi memiliki tiga sifat dan dinamakan sifat yang mendominasinya. Ada jiwa
yang disebut muthma’innah (jiwa yang tenang) karena
ketenangannya dalam beribadah, bermahabbah, berinabah, bertawakkal, serta
keridhaannya dan kedamainnya kepada Allah SWT. Ada jiwa yang bernama nafsu
lawwamah karena tidak selalu berada pada satu keadaan dan ia selalu
mencela; atau dengan kata lain, selalu ragu-ragu, menerima dan mencela secara
bergantian. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nafsu
lawwamah dinamakan demikian karena orangnya sering mencela. Sedang nafsu
ammarah adalah nafsu yang menyuruh kepada keburukan.Jadi, jiwa manusia
merupakan satu jiwa yang terdiri dari ammarah, lawwamah, dan muthma’innah yang menjadi tujuan
kesempurnaan dan kebaikan manusia.
Filosof muslim sepanjang masa, Ibn
Sina mencoba menafsirkan kesempurnaan tidak dalam arti sebagai form
seperti konsep Aristoteles yang tidak dapat dipisahkan dari materi. Berdasarkan
konsep Aristoteles ini, jiwa dalam arti form akan turut hancur dengan hancurnya
jasad fisik, ketika mati. Ibn Sina menjelaskan bahwa memang form itu merupakan
kesempurnaan bagi jasad tetapi tidak berarti semua kesempurnaan itu adalah
form. Raja adalah kesempurnaan atau
kelengkapan negara, tetapi jelas bukan merupakan form negara. Jadi nafs sebagai
kesempurnaan jisim menurut Ibn Sina, berbeda
dengan jiwa sebagai forma menurut Aristoteles. Dengan demikian, jiwa bukanlah
seperti jasad, tetapi ia adalah substansi rohani.
Ibnu
Rusyd mendefenisikan jiwa sebagai suatu kesempurnaan awal bagi tubuh yang
bersifat alamiah dan mekanistik. Defenisi ini sama dengan defenisi dari
Aristotels dan seluruh filosof Muslim terdahulu.
Jiwa
menurut Al-Kindi memiliki kekuatan-kekuatan yang fungsinya bersamaan dengan
perasaan dan akal; yaitu otak yang dimiliki oleh setiap yang memiliki kekuatan
jiwa. Secara umum dia membagi tiga kekuatan jiwa, yaitu:
1. Al-Qawiyyul Haasah ---
yaitu kekuatan yang dapat mengenal segala yang dapat dirasakan dan yang nyata.
Kekuatan ini tidak dapat membentuk suatu gambaran, kecuali yang diketahuinya.
2. Al-Qawiyyul
Muthaasithah --- yaitu kekuatan yang dapat memberikan kepada kita
pengetahuan tentang bentuk (persepsi) sesuatu, tanpa wujud materi. Yakni,
setelah hilangnya benda yang dipersepsikan dari panca indra kita. Kekuatan jiwa
ini dapat berfungsi, baik pada saat manusia dalam keadaan sadar ataupun dalam
keadaan tidak sadar (tidur). Keistimewaan dari kekuatan ini dapat membentuk
sebuah persepsi; seperti mempersepsikan tentang sebuah gambar manusia dengan
kepala singa. Kekuatan ini juga dapat menghafal atau menyimpan segala bentuk
persepsi yang telah diterima.
3. Al-Qawiyyul
Qhadhabiyyah --- yaitu kekuatan marah yang dapat menggerakkan
urat-urat untuk melakukan perbuatan pelanggaran atau kesalahan, dan termasuk
didalamnya adalah kekuatan syahwat. Kekuatan syahwat ini pada dasarnya bukan
kekuatan jiwa. Karena, terkadang jiwa melarang terjadinya kekuatan syahwat
untuk melakukn sesuatu. Dalam hal ini, jiwa merupakan penghalang kekuatan marah
untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang. Karena, pada prinsipnya,
tidak ada satu kekuatan yang dapat menentang jiwa.
AL-FARABI menjelaskan bahwa Jiwa manusia beserta materi asalnya
memancar dari akal Kesepuluh. Jiwa adalah Jauhar rohani
sebagai form bagi jasad. Kesatuan keduanya merupakan kesatuan
secara accident,artinya masing-masing keduanya mempuyai substansi
yang berbeda dan binasanya jasad tidak membawa binasa pada jiwa. Jiwa manusia
disebut dengan al-nafs al-nathiqah, berasal dari alam ilahi,
sedangkan jasad berasal dari alam khaliq, berbentuk, berupa, berkadar, dan
bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.
Penjelasan
jiwa menurut pandangan islami seperti yang diungkapkan di atas sepertinya
sedikit berbeda dengan yang akan diungkapkan oleh ahli sufi. Para sufi
sepakat bahwa nafs adalah sumber dan prinsip kejahatan, tetapi sebagian
mengatakan bahwa nafs adalah substansi yang berada di dalam badan. Yang lain
mengatakan, ia sebagai atribut (sifat) badan. Namun mereka semua sepakat bahwa
melalui nafs, kualitas-kualitas rendah dijelmakan dan bahwa ia adalah sebab
langsung dari tindakan-tindakan tak terpuji. Ketundukan kepada nafs syahwiyyah
(jiwa rendah) menyebabkan kebinasaan dirinya, dan penguasa atas jiwa rendah ini
akan melahirkan keselamatan hidup.
Lebih
jauh al-Hujwiri menjelaskan keadaan jiwa rendah (nafs): “Tabir (hijab) yag
paling dahsyat ialah jiwa rendah dan ajakan-ajakannya”, mengikutinya berarti
ketidaktaatan kepada Tuhan, yang menjadi hijab antara dia dengan Dia”.
Sebenarnya yang menjadi hijab itu bukan nafsnya, akan tetapi perilakunya yang
berupa kemaksiatan. Bagi al-Ghazali, hati adalah kebaikan cermin. Bisa
mengkilap dan bisa hitam pekat, karena prbuatan yang dilakukannya. Seperti
dalam QS. al-Muthaffifin: 14.
|
Artinya :Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati
mereka.
|
كَلا
بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
|
Lebih
lanjut al-Hujwiri menjelskan keadaan jiwa rendah, bahwa ia adalah “Sifat yang
tidak pernah tenang kcuali dalam kebathilan, yakni selamanya tidak pernh
mencari jalan kebenaran”. “Seseorang tidak mungkin mengenal Tuhan, selama dia
tetap kekal dengan jiwa rendahnya, karena ia tak mampu mengenal dirinya,
apalagi terhadap yang lain”. untuk menekan sifat nafs yang demikian itu, maka
upaya pembinaannya adalah dengan menjalankan ibadah dan mujahadah, yang
diharapkan manusia dapat menemukan Tuhan atau jalan menuju kepada Tuhannya.
Menurut
Sahl al-Tastari bahwa menurut pandangan sufi, komposisi manusia yang
paling sempurna memiliki tiga unsur yaitu ruh, jiwa, dan badan, masing-masing
unsur ini mempunyai sifat yang langgeng di dalamnya. Sifat ruh adalah kecakapan
aqliyah, sifat jiwa ialah hawa nafsu, dan sifat badan ialah pengindraan.
Manusia adalah suatu tipe alam semesta. Alam semesta adalah nama dua alam, dan
dalam diri manusia ada tanda dari keduanya, karena ia terdiri dari lendir,
darah, empedu dan kemurungan hati, yang mana empat suasana jiwa berkaitan
dengan empat unsure dunia ini, yakni air, tanah, udara, dan api.
Dalam
diri manusia terjadi tarik menarik antara unsure yang mengajak ke arah positif,
yaitu roh yang mempunyai sikap rasional, dan unsur lain berupa nafs (jiwa
rendah) yang cendrung ke hal-hal yang bersifat negatif. Posisi manusia akan
ditentukan unsur mana yang menang dalam percaturan setiap harinya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam pandangan ilmiah jiwa yaitu:
- sumber dari gerak
jasad manusia
-
unsur
kehidupan.
- sumber kekuatan
Sedangkan
dalam pandangan islami, jiwa diartikan sebagai:
- jiwa bukanlah seperti jasad,
tetapi ia adalah substansi rohani.
- jiwa adalah Jauhar rohani sebagai form bagi
jasad. Kesatuan keduanya merupakan kesatuan secara accident,artinya
masing-masing keduanya mempuyai substansi yang berbeda dan binasanya jasad
tidak membawa binasa pada jiwa.
-
substansi yang berada di dalam badan,sumber dan prinsip kejahatan,
serta hawa nafsu ( penafsiran para ahli
sufi)
Walaupun
hasil dari penafsiran para ahli ilmu itu beragam, namun tidak ada yang
membantah jika dikatakan bahwa jiwa itu memang ada dan bersifat abstrak.
3.2 Saran
Psikologi mempelajari ilmu jiwa
yang berhubungan dengan manusia. Jadi tidak salah jika generasi muda khususnya
para mahasiwa untuk belajar ilmu psikologi. Karena dengan mempelajari psikologi
kita bisa mempelajari tentang gejala-gejala jiwa yang terjadi pada manusia.
Sehingga bisa mengetahui penyebab dan juga cara mengendalikannya.
DAFTAR
PUSTAKA
- Nashori, H.Fuad .2010.Agenda
Psikologi Islami.Yogyakarta:Pustaka
pelajar
- Kafie, Jamaluddin.1993.Psikologi dakwah .Surabaya:Indah
Surabaya
- Prof.Dr.Bimo Walgito.1981.Pengantar Psikologi Umum.Yogyakarta:
Andi Yogyakarta
- Ibn Sina.2009.Psikologi Ibn Sina.Bandung:Pustaka
Hidayah
- Dr. Zakiah Daradjat.Ilmu Jiwa Agama.1976.Jakarta:Bulan
Bintang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar