Ged a Widget

Kamis, 17 Januari 2013


ARTI JIWA SECARA
ILMIAH DAN ISLAMI
TUGAS PSIKOLOGI UMUM
 

Nim:12422071
Nama:Fina Sunarsih
Prodi:Pend.Agama Islam
Fakultas Ilmu Agama Islam
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA

KATA PENGANTAR
BISMILLAHIRRAHMANIIRAHIIM
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Dengan mengucap syukur kepada Allah SWT karena hanya dengan rahmat dan ridhanya lah makalah  dengan judul ARTI JIWA SECARA ILMIAH DAN ISLAMI ini dapat terselasaikan.
Tidak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Muhammad Idrus selaku dosen psikologi umum saya yang telah memberikan tugas untuk membuat makalah ini. Dan alhamdulilah saat ini saya telah menyelesaikan tugas yang bapak berikan dengan sebaik-baiknya.
Saya sebagai mahasiswa yang baru mempelajari ilmu psikologi sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan dalam penyempurrnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Yogyakarta,  1 Oktober 2012

Fina Sunarsih




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Perbedaan pandangan dalam suatu lapangan ilmu bukanlah hal yang baru. Lebih-lebih dalam cabang ilmu sosial. Masing-masing ahli mempunyai sudut pandang sendiri-sendiri, sehingga akan berbeda dalam meletakkan titik beratnya. Perbedaan pandangan ini mungkin karena perbedaan bidang studi ataupun metode yang digunakan dalam pendekatan masalah. Seperti halnya mengkaji ilmu psikologi atau lebih dikenal dengan ilmu jiwa. sesungguhnya perbincangan mengenai “jiwa” bukanlah hal yang baru. Seperti yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa Ilmu psikologi sudah ada sejak dulu dan untuk menjawab tentang apa itu jiwa bukan lah perkara yang mudah.Ini terbukti dari jawaban yang berbeda-beda. Oleh karena itu timbullah persoalan yaitu pengertian atau definisi manakah yang tepat. Karena suatu definisi tepat  bagi seseorang, belum tentu tepat bagi orang atau ahli yang lain. Sehingga sulitlah untuk memberikan suatu definisi yang memuaskan secara umum universal. Tetapi, ini bukanlah penghalang untuk memberikan pengertian tentang suatu hal yang dibicarakan walaupun nantinya pengertian yang diberikan tidak akan memuaskan semua pihak.
Banyak ahli ilmu yang telah mendefinisikan tentang jiwa. Jiwa sesuatu yang bukan materi dan abstrak tetapi sangat berpengaruh terhadap fisik. Dulu ahli-ahli filosof terutama filosof barat lebih tertarik untuk meneliti tentang fisik namun sekarang semua ahli ilmu sedang mencoba mengungkapkan tentang apa itu jiwa. karena inilah saya menjadi lebih tertarik untuk belajar ilmu jiwa atau psikologi. Dan kali ini saya mencoba menjelaskan kembali apa yang telah ditafsirkan oleh para ahli mengenai jiwa.

1.2 Rumusan Masalah
-        Apakah pengertian jiwa secara ilmiah?
-        Apa pula pengertian jiwa secara islami?

1.3 Tujuan Penulisan
-        Untuk mengetahui arti jiwa secara ilmiah.
-        Untuk mngetahui arti jiwa secara islami
1.4 Manfaat penulisan
Dalam penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang apa itu jiwa. Tidak hanya dijelaskan secara ilmiah oleh para filosof modern namun juga dikaji dari sudut pandang islam. Semoga dengan adanya makalah ini bisa menambah pengetahuan kita terutama mahasiswa yang baru belajar mengenai psikologi atau ilmu jiwa.















BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Pengertian jiwa secara ilmiah
Psikologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani Psychology yang merupakan gabungan dan katapsyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Secara harfiah psikologi diartikan sebagal ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit didefinisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya, meskipun tidak dapat dimungkiri keberadaannya.  Walaupun psikologi adalah ilmu yang mempelajari sesuatu yang tidak nampak yaitu jiwa. Ilmu jiwa atau psikologi harus dapat diuji kebenarannya. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode ilmiah. Metode ilmiah yaitu suatu metode yang terencana, terorganisir dan sistematis.
Dalam pendekatan Ilmiah mengenai psikologi atau ilmu jiwa harus dapat menghasilkan kesimpulan yang sama atau hampir sama diantara sekian banyak peneliti yang menjelaskan. Penarikan kesimpulan haruslah objektif, tidak boleh subjektif. Karena suatu ilmu harus objektif. Dengan mengkaji psikologi atau ilmu jiwa dengan metode ilmiah , maka diharapkan dapat diperoleh hasil berupa ilmu pengetahuan yang benar tidak hanya secara teori tetapi juga benar apabila seorang peneliti ingin mengujinya.
.Pembahasan mengenai jiwa sudah ada jauh pada zaman Yunani kuno. Dan sudah banyak ahli filosof yang mendefinisikan mengenai jiwa di antaranya yaitu
Menurut Sokrates, jiwa merupakan wujud ruhani yang lepas (independen), dimana jiwa wujud ruhani itu diabaikan atau ditinggalkan, niscaya akan menimbukan kebodohan dan akan memproduksi pemikiran yang mandul serta rusak. Bahwa manusia itu dapat menghilangkan kebodohan yang menimpa dirinya apabila ia berpikir tentang jiwa. Mengenai jiwa, menurutnya, merupakan pengetahuan yang pertama kali harus dilakukan oleh manusia. Sokrates sendiri meyakini kekekalan jiwa dan kefanaan (rusaknya) jasad. Untuk mempertahankan idenya, Sokrates lebih mengutamakan dihukum daripada kembali mengakui kesalahan pendapatnya, yang ia peroleh setelah menganalisa jiwanya dan jiwa orang lain.
 John Broadus Watson menjelaskan bahwa Ilmu jiwa atau pskilogi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku tampak ( lahiriah) dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsang dan jawaban (respons).
Menurut Plato, jiwa adalah substansi yang independen dari anggota tubuh, dan hubungan diantara keduanya, yaitu antara jiwa dan jisim bagaikan hubungan antara seorang nakhoda dengan sebuah perahu, dimana nakhoda berfungsi sebagai pengatur jalannya perahu, dan menjaganya ditengah-tengah hembusan gelombang. Jiwa menurutnya berada diantara dua alam, yaitu alam tinggi (alam ide) dan alam bawah, yakni alam rasa. Kedua alam ini pada awalnya adalah menyatu dalam kesatuan. Akan tetapi, setelah alam ide itu jatuh ketanah, mengakibatkan terpecahnya alam tersebut menjadi beberapa bagian. Dia juga mengakui tentang kekekalan jiwa, dengan mengemukakan beberapa bukti. Diantaranya yang paling penting adalah “kehidupan” dan “gerak”. Kehidupan dan gerak inilah yang menjadi dasar dan tabiat jiwa seseorang. Gerak dan kehidupan merupakan kekhususan yang substantive bagi jiwa, dan saat gerak serta kehidupan itu terdapat didalam jasad, maka bermakna; bahwa jasad itu hidup. Dan pada saat itu , jiwa merupakan sumber dari gerak jasad manusia. Sesungguhnya gerak dari jasad itu bukanlah gerak asli, karena fungsi jasad hanya menerima signal dari gerakan jiwa. Sementara gerak dari jiwa manusia bersifat dzati. Dengan demikian, gerak jiwa itu bersifat qadim (lama) dalam makna “kekal”, abadi.
Aristoteles memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gejala-gejala kehidupan. Jiwa merupakan unsur kehidupan . Karena itu tiap-tiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Jadi baik manusia,hewan maupun tumbuhan menurut aristoteles adalah berjiwa atau beranima. Dan anima yang lebih tinggi mencangkup sifat-sifat atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh anima yang lebih renadah. Anima intelektual merupakan tingkatan anima yang paling tinggi, sedangkan anima vegtatif adalah anima yang paling rendah.
Menurut Plotinus, Jiwa adalah suatu kekuatan ilahiah; jiwa merupakan sumber kekuatan. Alam semesta berada dalam jiwa dunia. Jiwa tidak dapat dibagi secara kuantitatif karena jiwa itu adalah sesuatu yang satu tanpa dapat dibagi. Jiwa adalah identitas dalam varietas. Semua orang berjiwa, tetapi jiwa itu tetap satu yang menyebar. Dalam hal ini, Plotinus memperkenalkan adanya emanasi jiwa. Konsep emanasi Plotinus bermula pada tiga realitas, The One, The Mind, dan The Soul. The One adalah puncak dari semua yang ada. Ini adalah puncak dari dari akal dan jiwa.  
Bruno membagi pengertian psikologi dalam tiga bagian yang pada perinsipnya saling berhubungan. Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai “ruh”. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai ”kehidupan mental”, ketiga psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “ tingkah laku” organisme.
1.2 Pengertian jiwa secara islami
Manusia merupakan suatu penciptaan yang menakjubkan.  Manusia yang terdiri dari jasad, akal, perasaan, jiwa, merupakan sesuatu yang fenomenal yang tidak mungkin diabaikan begitu saja. Banyak penelitian dilakukan untuk mengungkap penciptaan manusia. Namun kebanyakan para ahli barat hanya meneliti dari segi fisik. Karena mereka menggagap unsur yang tidak nampak seperti jiwa hanyalah spekulatif. Padahal sesungguhnya tingkah laku yang dilakukan fisik adalah hasil dari penjelmaan jiwa. Berbeda dengan filosofis muslim. Mereka lebih tertarik meneliti tentang jiwa. Kenapa demikian?... Karena mereka menggangap dimensi jiwa memiliki kedudukan lebih tinggi daripada dimensi fisik.
Kata jiwa berasal dari bahasa arab (النفس) atau nafs’ yang secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai jiwa, dalam bahasa Inggris disebut soul atau spirit.
Dalam pandangan islam,jiwa dilihat dari sifatnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: nafs muthma’innah (jiwa tenang), nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri), nafs ammarah(jiwa yang selalu menyuruh kepada kejahatan). dan Pembagian ini berdasarkan dalil dalam al-Qur’an.
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang” (Al-Fajr: 27)
“Aku bersumpah demi hari kiamat. Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (Al-Qiyamah 1-2)
 " Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalumenyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang (Yusuf:53)
Jiwa dalam pandangan Al-Qur’an
Al-Qur’an sebagai sumber yang tepat dan terpecaya memberikan apresiasi yang sangat besar bagi kajian jiwa (nafs) manusia. Hal ini bisa dilihat ada sekitar 279 kali Al-Qur’an menyebutkan kata jiwa (nafs). Dalam Al-Qur’an kata jiwa mengandung makna yang beragam (lafzh al-Musytaraq). Terkadang lafaz nafs bermakna manusia (insan), “Takutlah kalian kepada hari di mana seorang manusia (nafs) tidak bisa membela manusia (nafs) yang lainnya sedikitpun.  Dan “Sesungguhnya orang yang membunuh seorang manusia (nafs) bukan karena membunuh (nafs) manusia yang lainnya, atau melakukan kerusakan di muka bumi, seolah-olah dia membunuh seluruh manusia. Juga menunjukkan makna Zat Tuhan, “Aku pilih engkau untuk Zat (nafs)-Ku. Demikian juga lafaz nafs yang mengandung makan hakikat jiwa manusia yang terdiri dari tubuh dan ruh,”Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk.”Dan “Allah tidak membebani (jiwa) seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Selain itu ditujukan maknanya kepada diri manusia yang memiliki kecenderungan,“Maka, hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang yang merugi.” Lafaz nafs yang bermakna bahan (mahiyah)  manusia. Kehendak (thawiyah) dan sanubari (dhamir),
Selain dalam Al-Qur’an, beberapa hadist Rasulullah saw. juga menyinggung persoalan jiwa. Sama halnya dengan Al-Qur’an kata nafs(jiwa) juga digunakan dalam makna yang beragam. Dalam hadist Rasulullah saw., penggunaan kata nafs (jiwa) dapat ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya:
1.Nafs dalam arti perasaan dan perilaku
Lafaz nafs dalam hadist sering mengandung makna wijdaan, suluuk, syu’uur (feeling), maupun ihsaas (sensasion)yang semuanya menunjuk kepada sesuatu yang terbetik atau bergejolak di dalam diri manusia. Dengan sesuatu inilah manusia kemudian memiliki perasaan dan emosi terhadap sesuatu yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam tingkah laku. Seperti beberapa hadist berikut; 
Ummul Mu’minin ‘Aisyah berkata, “Suatu hari, Rasulullah saw., keluar dari kediaman saya dengan perasaan gembira (thibb an-nafs). Akan tetapi ketika kembali beliau terlihat sedih sehingga saya terdorong untuk menanyakan penyebabnya. Beliau kemudian menjawab,
“Sesungguhnya saya tadi masuk ke dalam Ka’bah. Tiba-tiba muncul pemikiran kalau saya tadi tidak melakukan hal tersebut. Hal itu disebabkan saya khawatir akan memberatkan umat saya yang dating kemudian.” (HR. Muslim).
2. Nafs dalam arti zat atau esensi manusia
Disamping makna di atas, kata nafs juga dipakai dalam arti zat/esensi manusia itu sendiri yang dengan keberadaannya setiap tindakan manusia menjadi bernilai. Seperti dalam hadist Rasulullah saw.;
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Abdullah bin Amru bin ‘Ash, “Engkau orang yang senatiasa puasa sepanjang hari dan melakukan shalat sepanjang malam?” Abdullah menjawab, “Benar.” Rasulullah saw. kemudian berkata, “Jika kamu teruskan kebiasaan seperti itu maka matamu akan sakit dan jiwamu akan menjadi letih. Tidak dibolehkan melakukan puasa dahr (setiap hari). Berpuasa tiga hari (disetiap pertengahan bulan) adalah laksana berpuasa sepanjang tahun.”Abdullah lalu berkata, “Akan tetapi, saya measa sanggup melakukan yang lebih dari itu.” Rasulullah saw. selanjutnya menjawab, “Jika demikian maka berpuasalah seperti puasanya Dawud a.s., yaitu berpuasa sehari kemudian berbuka sehari…” (HR Bukhari).
3. Nafs dalam arti ruh manusia
Lafaz nafs kebanyakan dipergunakan dalam makna ruh. Dalam hal ini bisa dilihat dari beberapa hadist berikut;
Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya tentang perbuatan-perbuatan yang dikategorikan dosa besar. Beliau lalu menjawab,“Mempersekutukan Allah swt. Durhaka terhadap kedua orang tua, membunuh jiwa dan melakukan sumpah palsu.” (HR Bukhari).
Penjelasan mengenai jiwa tidak hanya berasal dari Al-Qur’an dan hadist namun juga penafsiran-penafsiran para ahli ilmu seperti:
Ibnu Qoyyim yang mendasarkan pendapatnya kepada Al-Qur’an, sunnah, ijma sahabat, argumentasi akal dan fitrah. Dia menjelaskan bahwa jiwa manusia itu satu, tetapi memiliki tiga sifat dan dinamakan sifat yang mendominasinya. Ada jiwa yang disebut muthma’innah (jiwa yang tenang) karena ketenangannya dalam beribadah, bermahabbah, berinabah, bertawakkal, serta keridhaannya dan kedamainnya kepada Allah SWT. Ada jiwa yang bernama nafsu lawwamah karena tidak selalu berada pada satu keadaan dan ia selalu mencela; atau dengan kata lain, selalu ragu-ragu, menerima dan mencela secara bergantian. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nafsu lawwamah dinamakan demikian karena orangnya sering mencela. Sedang nafsu ammarah adalah nafsu yang menyuruh kepada keburukan.Jadi, jiwa manusia merupakan satu jiwa yang terdiri dari ammarah, lawwamah, dan  muthma’innah  yang menjadi tujuan kesempurnaan dan kebaikan manusia. 
Filosof muslim sepanjang masa, Ibn Sina mencoba menafsirkan  kesempurnaan tidak dalam arti sebagai form seperti konsep Aristoteles yang tidak dapat dipisahkan dari materi. Berdasarkan konsep Aristoteles ini, jiwa dalam arti form akan turut hancur dengan hancurnya jasad fisik, ketika mati. Ibn Sina menjelaskan bahwa memang form itu merupakan kesempurnaan bagi jasad tetapi tidak berarti semua kesempurnaan itu adalah form. Raja adalah kesempurnaan atau kelengkapan negara, tetapi jelas bukan merupakan form negara. Jadi nafs sebagai kesempurnaan jisim menurut Ibn Sina, berbeda dengan jiwa sebagai forma menurut Aristoteles. Dengan demikian, jiwa bukanlah seperti jasad, tetapi ia adalah substansi rohani.
Ibnu Rusyd mendefenisikan jiwa sebagai suatu kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanistik. Defenisi ini sama dengan defenisi dari Aristotels dan seluruh filosof Muslim terdahulu.
Jiwa menurut Al-Kindi memiliki kekuatan-kekuatan yang fungsinya bersamaan dengan perasaan dan akal; yaitu otak yang dimiliki oleh setiap yang memiliki kekuatan jiwa. Secara umum dia membagi tiga kekuatan jiwa, yaitu:
1. Al-Qawiyyul Haasah --- yaitu kekuatan yang dapat mengenal segala yang dapat dirasakan dan yang nyata. Kekuatan ini tidak dapat membentuk suatu gambaran, kecuali yang diketahuinya.
2. Al-Qawiyyul Muthaasithah --- yaitu kekuatan yang dapat memberikan kepada kita pengetahuan tentang bentuk (persepsi) sesuatu, tanpa wujud materi. Yakni, setelah hilangnya benda yang dipersepsikan dari panca indra kita. Kekuatan jiwa ini dapat berfungsi, baik pada saat manusia dalam keadaan sadar ataupun dalam keadaan tidak sadar (tidur). Keistimewaan dari kekuatan ini dapat membentuk sebuah persepsi; seperti mempersepsikan tentang sebuah gambar manusia dengan kepala singa. Kekuatan ini juga dapat menghafal atau menyimpan segala bentuk persepsi yang telah diterima.
3. Al-Qawiyyul Qhadhabiyyah --- yaitu kekuatan marah yang dapat menggerakkan urat-urat untuk melakukan perbuatan pelanggaran atau kesalahan, dan termasuk didalamnya adalah kekuatan syahwat. Kekuatan syahwat ini pada dasarnya bukan kekuatan jiwa. Karena, terkadang jiwa melarang terjadinya kekuatan syahwat untuk melakukn sesuatu. Dalam hal ini, jiwa merupakan penghalang kekuatan marah untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang. Karena, pada prinsipnya, tidak ada satu kekuatan yang dapat menentang jiwa.
AL-FARABI menjelaskan bahwa Jiwa manusia beserta materi asalnya memancar dari akal Kesepuluh. Jiwa adalah Jauhar rohani sebagai form bagi jasad. Kesatuan keduanya merupakan kesatuan secara accident,artinya masing-masing keduanya mempuyai substansi yang berbeda dan binasanya jasad tidak membawa binasa pada jiwa. Jiwa manusia disebut dengan al-nafs al-nathiqah, berasal dari alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khaliq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.
Penjelasan jiwa menurut pandangan islami seperti yang diungkapkan di atas sepertinya sedikit berbeda dengan yang akan diungkapkan oleh ahli sufi. Para sufi sepakat bahwa nafs adalah sumber dan prinsip kejahatan, tetapi sebagian mengatakan bahwa nafs adalah substansi yang berada di dalam badan. Yang lain mengatakan, ia sebagai atribut (sifat) badan. Namun mereka semua sepakat bahwa melalui nafs, kualitas-kualitas rendah dijelmakan dan bahwa ia adalah sebab langsung dari tindakan-tindakan tak terpuji. Ketundukan kepada nafs syahwiyyah (jiwa rendah) menyebabkan kebinasaan dirinya, dan penguasa atas jiwa rendah ini akan melahirkan keselamatan hidup.
            Lebih jauh al-Hujwiri menjelaskan keadaan jiwa rendah (nafs): “Tabir (hijab) yag paling dahsyat ialah jiwa rendah dan ajakan-ajakannya”, mengikutinya berarti ketidaktaatan kepada Tuhan, yang menjadi hijab antara dia dengan Dia”. Sebenarnya yang menjadi hijab itu bukan nafsnya, akan tetapi perilakunya yang berupa kemaksiatan. Bagi al-Ghazali, hati adalah kebaikan cermin. Bisa mengkilap dan bisa hitam pekat, karena prbuatan yang dilakukannya. Seperti dalam QS. al-Muthaffifin: 14.
Artinya :Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.
كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Lebih lanjut al-Hujwiri menjelskan keadaan jiwa rendah, bahwa ia adalah “Sifat yang tidak pernah tenang kcuali dalam kebathilan, yakni selamanya tidak pernh mencari jalan kebenaran”. “Seseorang tidak mungkin mengenal Tuhan, selama dia tetap kekal dengan jiwa rendahnya, karena ia tak mampu mengenal dirinya, apalagi terhadap yang lain”. untuk menekan sifat nafs yang demikian itu, maka upaya pembinaannya adalah dengan menjalankan ibadah dan mujahadah, yang diharapkan manusia dapat menemukan Tuhan atau jalan menuju kepada Tuhannya.
Menurut Sahl al-Tastari bahwa menurut pandangan sufi, komposisi manusia yang paling sempurna memiliki tiga unsur yaitu ruh, jiwa, dan badan, masing-masing unsur ini mempunyai sifat yang langgeng di dalamnya. Sifat ruh adalah kecakapan aqliyah, sifat jiwa ialah hawa nafsu, dan sifat badan ialah pengindraan. Manusia adalah suatu tipe alam semesta. Alam semesta adalah nama dua alam, dan dalam diri manusia ada tanda dari keduanya, karena ia terdiri dari lendir, darah, empedu dan kemurungan hati, yang mana empat suasana jiwa berkaitan dengan empat unsure dunia ini, yakni air, tanah, udara, dan api.
Dalam diri manusia terjadi tarik menarik antara unsure yang mengajak ke arah positif, yaitu roh yang mempunyai sikap rasional, dan unsur lain berupa nafs (jiwa rendah) yang cendrung ke hal-hal yang bersifat negatif. Posisi manusia akan ditentukan unsur mana yang menang dalam percaturan setiap harinya. 
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam pandangan ilmiah jiwa yaitu:
-  sumber dari gerak jasad manusia
-  unsur kehidupan.
-  sumber kekuatan
Sedangkan dalam pandangan islami, jiwa diartikan sebagai:
- jiwa bukanlah seperti jasad, tetapi ia adalah substansi rohani.
- jiwa adalah Jauhar rohani sebagai form bagi jasad. Kesatuan keduanya merupakan kesatuan secara accident,artinya masing-masing keduanya mempuyai substansi yang berbeda dan binasanya jasad tidak membawa binasa pada jiwa.
- substansi yang berada di dalam badan,sumber dan prinsip kejahatan, serta hawa nafsu ( penafsiran para ahli sufi)
Walaupun hasil dari penafsiran para ahli ilmu itu beragam, namun tidak ada yang membantah jika dikatakan bahwa jiwa itu memang ada dan bersifat abstrak.
3.2 Saran
Psikologi mempelajari ilmu jiwa yang berhubungan dengan manusia. Jadi tidak salah jika generasi muda khususnya para mahasiwa untuk belajar ilmu psikologi. Karena dengan mempelajari psikologi kita bisa mempelajari tentang gejala-gejala jiwa yang terjadi pada manusia. Sehingga bisa mengetahui penyebab dan juga cara mengendalikannya.
DAFTAR PUSTAKA
- Nashori, H.Fuad .2010.Agenda  Psikologi  Islami.Yogyakarta:Pustaka pelajar
- Kafie, Jamaluddin.1993.Psikologi dakwah .Surabaya:Indah Surabaya
- Prof.Dr.Bimo Walgito.1981.Pengantar Psikologi Umum.Yogyakarta:
Andi Yogyakarta
- Ibn Sina.2009.Psikologi Ibn Sina.Bandung:Pustaka Hidayah
- Dr. Zakiah Daradjat.Ilmu Jiwa Agama.1976.Jakarta:Bulan Bintang





Tidak ada komentar:

Posting Komentar